Jumat, 09 Desember 2016

prosa lama

Cerpen : Si “Alhamdulillah”

                Pada zaman dahulu di Desa lembah neundeut ada seorang pemuda yang memelihara seekor kuda sejak dari  kecil yang sangat penurut, nama kuda itu adalah “Alhamdulillah”, kuda itu sangat penurut, apabila di panggil langsung datang. Jika di suruh berjalan kita hanya berkata “Alhamdulillah”  langsung tancap kuda itu akan berjalan, sedangkan jika mau berhenti kita ucap “Astagfirullah” si kuda akan langsung berhenti. Mungkin karena di rawat sejak kecil dan latihan yang rutin membuat si kuda menjadi penurut.
                Oman adalah pemilik kuda pintar tersebut, dia sangat sayang dengan kudanya. Di suatu sore hari Oman sedang mengajak bermain kudanya itu keliling taman dekat rumahnya. Ketika sedang di taman Oman bertemu dengan seorang temannya bernama Asep "Assalamualaikum.... gimana kabarnya, kudanya bagus bangeeet.."?
"Baik... ia ni kuda penurut, tinggal ucap hamdalah dia akan berjalan, dan kalau mau berhenti tingal ucap “istigfar"
" aku boleh nyoba gak"?
" oh.. monggo..."
Sang teman mulai mengucapkan hamdalah untuk menjalankannya. "alhamdulilah berangkatlah kuda" dia merasa bosan karna kudanya jalannya terlalu pelan, dia memukul kuda supaya berjalan lebih cepat ,tapi belum berhasil juga, akhirnya dia memukul dan mengucapkan alhamdulillah dengan keras. "PLAK..... ALHAMDULIILLAH......" Kuda itu berjalan dengan cepat ,sehingga orang itu tidak bisa mengendalikanya, di depan matanya terlihat jurang yang sangat dalam , karena sangat gugup dia lupa kata-kata untuk menghentikan kudanya, semua kata-kata keluar dari mulutnya. "ALLAH” kuda belum berhenti. "ROSULALLAH." kuda itu masih belum bisa berhenti. " INALILAH." kuda itu masih tak mau behenti.
Dia sudah putus asa , dia mengucapkan istigfar untuk yang terakhir kalinya. " ASTAGFIRULOH." Tiba-tiba kuda itu berhenti pas di depan jurang itu, dia sangat senang, dan mengucapkan puji syukur kepada Allah. "Alhamdulillah ya Allah kau masih menolongku". karena ucapanya itu, kuda tiba-tiba berjalan dan....dan ,,..

5. Sudut Pandang: “Dia” terbatas (mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.)








           


Contoh Novelet : Resiko Jadi Orang Baik oleh Anggita
                   Disini aku berperan sebagai Gaara. Gaara ini terkenal sebagai orang yang baik. Gaara kini duduk di kelas 2 SMP di sebuah kotanya. Gaara memiliki 2 sahabat yang sangat baik, yaitu Rheno dan Aray.  Di suatu hari, Aku merasa bosan dengan diriku saat ini, aku ingin menjadi orang yang berguna bagi semua orang. Tetapi aku berpikir bahwa itu beresiko tinggi. 
                   Aku merasa membebani semua sahabatku. Sahabatku selalu saja bergantung padaku. Semua keputusan dan segala aktivitas harus aku memutuskannya. Aku mulai merasa iba kepada kedua sahabatku, sepertinya mereka kurang perhatian dan kasih sayang.  Aray :" Sekarang masa depanku ada ditanganmu... Aku sangat mengharapkanmu. Karena kamu adalah orang yang terbaik yang pernah aku termui dalam hidupku."
                  Rheno :" Benar Gaara... Kita sangat menyayangimu... Janganlah kamu pergi dalam kehidupan kita."  Gaara :" Aku tidak akan pernah pergi dalam kehidupan kalian... Karena Kita semua adalah keluarga... Aku sangat menyayangi kalian...".  Aku berpikir dalam hati :" Kalau misal Aray dan Rheno terus terbebani dan membebani aku, mereka tidak akan pernah bisa sukses, aku harus cari cara lain agar mereka bisa pergi dari kehidupanku, itulah tanda sayangku pada mereka".
                  Aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan lamaku. Walaupun aku selalu berkata bahwa kesuksesan berasal dari masa lalu  Rheno dan Aray merasa kecewa terhadapku.
Rheno :" Kamu yakin akan melakukan itu".
Aray :" Apapun yang kamu lakukan, kami mendukung, silahkan jika kamu mau pergi dari kehidupan kami, tetapi kami tetap akan menyayangi dan mempercayaimu. Gaara aku yakin ini semua demi kebaikan kami, bukan?"
               
 Aku hanya diam, jika aku berbicara, aku takut akan terjadi perdebatan. Aku masuk dalam perkumpulan anak brandal. Aku berpikiran bahwa resiko jadi anak nakal tidak terlalu berat. Tetapi ternyata resiko jadi anak nakal lebih berat. Mereka jadi takut denganku, aku putuskan lagi jadi anak baik. Mereka kaget dengan sikapku yang selalu erubah-ubah, kadang baik, kadang nakal. Mereka mengira bahwa aku tidak berpendirian. Aku membuktikan yang terbaik untuk mereka. Aku kembali lagi menjadi sahabat Rheno dan Aray. Rheno dan Aray mengerti itu.
                Gaara :" Resiko jadi orang baik itu luar biasa".
                 Aray :" Kamu adalah orang yang paling baik dalam hiduku".
                 Rheno :" Jangan tinggalkan kami dengan alasan yang tidak jelas seperti yang kemarin kamu lakukan".
Bersambung.............. :D :D :D :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar